Pemahaman yang komprehensif diperlukan untuk penelitian pemodelan klasifikasi komoditas dan fase tanam berbasis data satelit. Ini merupakan kerja sama antara Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Pupuk Indonesia bersama Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Tanaman Pemanis dan Serat. Kerja sama ini diawali dengan audiensi yang telah dilaksanakan pada Kamis, 27 November 2025 di Gedung Utama BRMP, Malang, Jawa Timur yang dihadiri oleh Tim Fakultas Geografi UGM bersama perwakilan PT Pupuk Indonesia dan BRMP Tanaman Pemanis dan Serat. Adapun Tim Fakultas Geografi UGM terdiri atas Dr. Sigit Heru Murti B.S., S.Si., M.Si., Dr. Mukhamad Ngainul Malawani, S.Si., M.Sc., Dody Kastono, S.P., M.P., dan Marzuki, S.Kel., M.Sc.
Sigit menjelaskan bahwa penting untuk meningkatkan akurasi model klasifikasi berbasis citra satelit dan fase tanam beberapa komoditas, khususnya tebu. Hal ini berkaitan dengan kepentingan PT Pupuk Indonesia dalam penyediaan dan penyaluran pupuk tepat sasaran. Adapun Ketua Balai BRMP Tanaman Pemanis dan Serat (BRMP TAS), Dr. Sri Suhesti, S.P., M.P., memperkenalkan mandat dan ruang lingkup kerja BRMP, yang meliputi perakitan, perekayasaan, dan pengujian teknologi untuk tanaman pemanis, serat, dan tanaman minyak industri. Sri memaparkan sistem informasi seperti Simanis yang tengah dikembangkan untuk mendukung sistem budidaya tanaman, termasuk tebu.
Diskusi dilanjutkan dengan beberapa staff BRMP TAS dan perwakilan PT Pupuk Indonesia. Pada sesi ini, berbagai aspek teknis terkait pemetaan tebu dibahas secara mendalam. Salah satu isu utama yang muncul adalah tantangan dalam membedakan tebu dari vegetasi lain pada citra satelit, terutama pada umur pertumbuhan awal yang sering menyerupai rumput gajah. Untuk itu, penggunaan citra multitemporal menjadi salah satu metode yang direkomendasikan guna melihat dinamika pertumbuhan tanaman dari waktu ke waktu. Selain pola tanam, fase-fase pertumbuhan tebu dijelaskan secara rinci, dimulai dari fase awal (0–4 bulan) yang membutuhkan pasokan air optimal karena fase ini merupakan fase pertunasan, fase relaksasi pada bulan kelima, hingga fase pembentukan sukrosa pada bulan ke-6 hingga ke-8, dan akhirnya fase kemasakan pada rentang 8–12 bulan. Pemahaman terhadap fase-fase ini penting untuk pemodelan berbasis citra satelit, mengingat setiap fase memiliki ciri vegetatif dan struktur kanopi yang berbeda. Di sisi lain, staff BRMP TAS menyampaikan bahwa perencanaan pengembangan SISCROP Tebu, yaitu sistem pemetaan dan rekomendasi budidaya berbasis tipologi lahan yang terinspirasi dari SISCROP Padi. Sistem ini mencakup pemetaan kesesuaian lahan berdasarkan jenis tanah, kondisi iklim, ketersediaan irigasi, dan kondisi drainase. Data lapangan seperti standing crop, luasan aktual, dan potensi produksi sedang dikumpulkan untuk diproses ke dalam sistem tersebut.
BRMP TAS menyoroti potensi pemanfaatan jaringan penyuluh, sebanyak 37 ribu penyuluh yang tersebar hingga tingkat desa untuk mendukung pembaruan data lapangan secara berkala, sehingga dapat mendukung akurasi pemodelan. Namun, beberapa tantangan juga disampaikan, terkait keterbatasan penyuluh yang saat ini sebagian besar masih berfokus pada komoditas padi. Hal ini menjadi perhatian dalam pelaksanaan kerja sama ke depannya, khususnya dari Fakultas Geografi UGM yang siap mendukung pemanfaatan data citra satelit dalam sistem informasi dan pemetaan untuk meningkatkan produktivitas komoditas tanaman dari BRMP TAS bersama PT Pupuk Indonesia.
